Desa jejeg
Desa Jejeg merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan bumijawa.
Tepatnya di kecamatan bumijawa bagian barat yang merupakan pertigaan
jalan untuk menuju Bumijawa,Balapulang dan Bumiayu.
Sejarah Desa Jejeg konon terjadi pada saat seorang sunan yang dikenal
dengan sebutan Mbah Jigja datang ke desa yang sepi dan belum ternamai
ini. Menurut cerita, beliau ini adalah keturunan Raja dari Keraton Solo.
Sebelum nama Jejeg terusung, ada beberapa nama daerah sekitar Jejeg yang
sudah bernama, contohnya nama sebuah sungai yaitu “Kali Kumpe” yang
konon ternamainya kali ini karena Mbah Jigja ini sering membersihkan
keris dan mengeringkanya di sungai itu, yang dalam sebutan orang jawa
ini adalah “ngekum lan dipe” jadi "Kumpe".
Ada lagi salah satu sungai lainya yang ada di desa ini yang dinamai oleh
adanya Mbah Jigja ini, yaitu sungai “Jaha”. Dulunya mbah Jigja ini
sering kali mandi di sungai ini (sebelum dinamai jaha), tapi pada suatu
hari, ketika mbah ini sedang mandi,ada seseorang yang mengintipnya dan
mbah jigja marah serta mengatakan “jahat sekali orang itu”, dan akhirnya
kata-kata jahat itu diambil untuk menamai nama sungai itu “Jaha”.
Menurut sumber, mbah Jigja sangat membenci para penjual nasi (warung
nasi). Ini disebabkan karena beliau seringkali dikagetkan dengan suara
bising dari para penjual nasi yang sedang mencuci berasnya pada malam
hari yang mengganggu konsentrasi beliau untuk bersembahyang dan
bersemedi terganggu. Suara yang ditimbulkan dari pencucian beras ini pun
yang menggoyahkan fikiran mbah Jigja pada malam hari sehingga membuat
mbah jigja menusaikan semedinya karena mengira waktu sudah menunjukan
pagi. Alangkah marahnya beliau, ketika sadar bahwa ternyata waktu masih
malam. Inilah yang menyebabkan mbah Jigja jengkel dan membeci para
penjual nasi, karena menganggap bahwa para penjual nasi ini sangat
mengganggu. Dan akibat masalah ini, konon katanya mbah Jigja pernah
mengucap bahwa selaris apapun para penjual nasi di Jejeg ini, tidak akan
berkah dan tidak bisa menjadikan kemakmuran(kekayaan).
Lain topik, Mbah Jigja juga sangat berperan dalam perkembangan desa ini,
karena beliau lah yang telah menghidupkan desa yang sepi ini menjadi
sebuah desa kecil yang makmur dan aman karena mbah Jigja selalu menjaga
desa Jejeg setiap beliau berada di desa Jejeg.
Setelah mbah Jigja wafat, ia dimakamkan di sebuah tempat yang sekarang
dinamakan Candi, tempatnya adalah di sebuah tanah lapang yang terdapat
pohon buah wuni di samping timurnya, makam ini berada tepat di tengah
pusat keramaian desa Jejeg.
Sampai sekarang, masih dipercaya bahwa mbah Jigja ini masih ikut menjaga
desa Jejeg. Sebagai balasan terimakasih inilah akhirnya desa ini
dinamakan "Desa Jejeg" yang diambil dari nama mbah Jigja ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar