Pengobatan Konvensional untuk Hipertensi
Melihat dari pengalaman dan perjalanan hidup selama ini, saya menemukan
banyak sekali yah menderita darah tinggi atau hipertensi. Pada tulisan
kali ini dibahas tentang informasi pengobatan hipertensi secara
konvensional dan modern.
silahkan disimak. . . . :)
Pengobatan Konvensional dan Modern untuk Hipertensi
Kesejahteraan masyarakat Indonesia yang masih di bawah negara lain
terutama dalam bidang pendidikan membuat sebagian masyarakat Indonesia
yang memiliki riwayat pendidikan rendah tidak selalu mengerti apa
keuntungan atau kerugian dari hal yang mereka kerjakan atau mereka
pikirkan, termasuk dalam bidang kesehatan. Pola pikir masyarakat
Indonesia yang hanya mengikuti kaum mayoritas sebagai pedoman melakukan
kegiatan sehari-hari sebenarnya tanpa mereka sadari telah merugikan
mereka sendiri, misalnya dalam bidang kesehatan. Telah diketahui oleh
masyarakat luas bahwa kesehatan masyarakat Indonesia sangatlah rendah,
terutama dalam pengetahuan masyarakat Indonesia tentang semua yang
menyangkut salah satu penyakit terbanyak yang diderita masyarakat di
Indonesia yaitu hipertensi. Pemahaman masyarakat di Indonesia yang masih
rendah tentang hipertensi ini membuat kebanyakan dari penderita tidak
mengetahui perkembangan tentang penyakit hipertensi yang mereka derita
baik dari perkembangan pengobatannya, perkembangan informasi tentang
resikonya maupun semua yang menyangkut hipertensi. Kembali pada pola
pikir masyarakat Indonesia yang selalu mengikuti kaum mayoritas ini
menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia yang menderita hipertensi
hanya mengetahui hipertensi sebatas penyakit tekanan darah tinggi, dan
hanya dengan datang ke rumah sakit sebagai pasien yang mengeluhkan
tentang penyakitnya kepada dokter kemudian dokter memberinya resep obat
kimia (obat modern) yang harus pasien beli dan minum secara teratur.
Kenyataannya ada alternatif lain dalam penyembuhan hipertensi yang tidak
mereka ketahui yaitu pengobatan hipertensi secara konvensional atau
secara tradisional yang menggunakan resep atau ramuan tradisional hasil
olahan bahan alam yang ada di sekitar lingkungan masyarakat Indonesia,
jalan lain selain menjadi pasien peminum obat kimia. Dalam tulisan ini
akan membahas dan mengungkapkan tentang perbandingan antara pengobatan
hipertensi secara konvensional atau tradisional dengan pengobatan secara
modern atau kimia.
Kelainan atau penyakit yang timbul akibat ketidaknormalan tekanan
darah adalah hipertensi dan hipotensi. Hipotensi adalah tekanan darah
rendah dimana tekanan darah berada di bawah batasan normal. Hipertensi
adalah tekanan darah dimana tekanan darah tersebut tingginya melebihi
batas normal. Hipertensi adalah penyakit kelainan jantung yang ditandai
oleh meningkatnya tekanan darah dalam tubuh. Seseorang yang menderita
penyakit ini biasanya berpotensi mengalami penyakit-penyakit lain
seperti stroke, dan penyakit jantung.1 Klasifikasi hipertensi adalah
tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Tekanan
darah yang dimaksud adalah rata-rata dari dua atau lebih pengukuran dan
dilakukan dua kali atau lebih pada waktu yang berbeda.2 Faktor-faktor
yang mempengaruhi tekanan darah salah satunya adalah curah jantung
dimana curah jantung tersebut berbanding lurus dengan tekanan darah,
tahanan perifer juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap aliran
darah yang berbanding terbalik dengan tekanan darah. Selain itu,
kandungan elektrolit dalam tubuh juga berpengaruh terhadap kenaikkan
tekanan darah. Setiap kali jantung berdenyut atau otot berkontraksi
elektrolit berperan di dalamya, karena tanpa elektrolit jantung akan
berhenti dan otot kaku. Penelitian terhadap tikus yang peka terhadap
natrium dan terhadap tikus yang resisten terhadap natrium yang keduanya
diperlakukan sama yaitu diberi makanan bernatrium tinggi menunjukkan
hasil bahwa tikus yang peka terhadap natrium ketika diberi makanan yang
bernatrium tinggi mengalami kenaikkan tekanan darah dengan cepat,
sedangkan tikus yang resisten terhadap natrium tidak memiliki pengaruh
setelah pemberian makanan bernatrium tinggi tersebut. Respon
berkebalikan ketika ginjal tikus resisten natrium dicangkokkan kepada
tikus peka natrium dan ginjal tikus peka natrium dicangkokkan kepada
tikus resisten natrium. Jadi, tikus yang mempunyai ginjal yang peka
terhadap natrium tekanan darahnya akan naik cepat ketika memakan makanan
yang berkadar natrium tinggi. Ini dikarenakan garam dan senyawa natrium
berperan dalam inisiasi serangkaian senyawa angiotensin dalam menaikkan
tekanan darah. Semakin peka seseorang terhadap natrium maka angiostin
dalam ginjal juga lebih banyak. Semakin banyak natrium dalam tubuh maka
semakin banyak air yang tertekan di dalam jaringan dalam tubuh yang
semua kejadian ini akan mengakibatkan kenaikkan tekanan darah. Selain
garam dan senyawa natrium, kalium juga memelihara fungsi normal otot,
jantung dan sistem saraf. Kalium juga merupakan regulator utama tekanan
darah. Tekanan darah akan naik jika kadar kalium dalam tubuh seseorang
tersebut kurang atau rendah. Tekanan darah terutama tekanan diastolik
juga akan naik dengan rendahnya kadar senyawa kalsium dan magnesium
dalam tubuh.2 Secara singkatnya tubuh memiliki suatu sistem untuk
mengatur tinggi tensinya yaitu sistem rennin angiotensin. Sel tertentu
dari ginjal dapat memproduksi hormon renin yang dilepaskan apabila
tekanan darah di glomerulus menurun. ini akan terjadi jika jumlah darah
yang mengalir melalui ginjal berkurang. Di dalam darah, renin bergabung
dengan suatu zat protein tertentu dengan menghasilkan argiotensin yang
berguna untuk menaikkan tekanan darah seperti neurohormon noradrenalin
(vasokontriksi) atau dengan jalan sekresi hormon aldosteron dengan
retensi natrium dan naiknya volume darah. Jadi, para penderita
hipertensi harus mampu mengotrol kandungan garam, mineral, kalium,
kalsium dan magnesium pada makanan dan pada komposisi obat yang harus
diminumnya. Perbandingan komposisi dan keuntungan kerugian obat yang
diberikan dari pengobatan tradisional dan pengobatan modern (bahan
kimia) pasti banyak pengaruhnya terhadap kondisi sang penderita
hipertensi.
Pengobatan hipertensi dilakukan untuk mencegah terjadinya kenaikkan
tingkat kematian individu (morbiditas dan mortalitas akibat tekanan
darah tinggi atau hipetensi. Maksudnya, tekanan darah harus diturunkan
sampai mencapai tingkat batas normal yang tidak memiliki efek
teganggunya fungsi atas ginjal, otak, jantung maupun kualitas hidup
seseorang, dibarengi dengan dilakukan pengendalian beberapa faktor
risiko kardiovaskuler lainnya.
Pengobatan tradisional untuk penyakit hipertensi ini adalah
pengobatan hipertensi yang obatnya diambil dari bahan alami berupa
tumbuhan, bahan hewan atau campuran dari bahan tersebut,dapat dikatakan
juga sebagai pengobatan yang dilakukan selain dengan jalan operasi atau
dengan konsumsi obat kimiawi yang secara turun temurun telah digunakan
untuk pengobatan berdasarkan pengalaman, begitu pun sebaliknya untuk
penobatan hipertensi dengan modern adalah dengan perkembangan teknologi
dengan berbagai obat campuran bahan kimia. Kedua pengobatan ini memiliki
kelebihan dan kekurangan disetiap penggunaannya dalam kehidupan
masyarakat.
Pertama, pengobatan hipertensi ini adalah untuk menurunkan tekanan
darah sampai batas normal, salah satunya dengan cara memperlancar air
seni. Kelancaran pengeluaran air seni akan mempengaruhi tekanan darah.
Tekanan darah tinggi bisa dipengaruhi atau diobati dengan peningkatan
pengeluaran air seni pada darah atau urin yang sering disebut dengan
diuretik. Karena salah satu cara menurunkan tekanan darah tinggi yaitu
penurunan jumlah air yang ada dalam plasma darah atau peningkatan
pengeluaran air seni, karena dengan berkurangnya air dalam plasma darah
atau jaringan tubuh kita dapat menurunkan tekanan darah. British
hypertension society (BHS) guideline memberikan arahan pilihan terapi
hipertensi berdasarkan usia pasien (lebih atau kurang dari 55 tahun).3
Pilihan terapi untuk pasien usia tua adalah diuretic dan channel
blockers (CCB). Mekanisme kerja obat diuretik ini adalah menurunkan
tekanan darah dengan menghancurkan garam yang tersimpan di dalam tubuh.
Pengaruhnya adalah pengurangan dari volume darah total dan curah
jantung; yang menyebabkan meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
dan ketika jantung kembali ke tekanan normal, resistensi pembuluh darah
perifer juga berkurang. Pengobatan hipertensi dengan obat diuretik
secara modern yaitu dengan penggunaan obat diuretik yang macamnya
diuretic thiazid meruapakan obat utama dalam terapi hipertensi yang
memiliki efek hipokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia dll. Loop
diuretic ini tidak menyebabkan hipokalsemia, hanya saja meningkatkan
kandungan kadar kalsium. Diuretik hemat kalium dan antagonis aldosteron
yang bekerja pada segmen yang berespon terhadap aldosteron dimana
homeostasis kalium dikendalikan. Namun jenis ini dapat menyebabkan
hiperkalemia berat. Salah satu contoh obat diuretik ini adalah
furosemide (loop diuretic) yang bernama paten cetasix, farsix, furostic,
impungsn, kutrix, lasix, salurix, uresix. Obat ini hanya dapat didapat
atas dasar resep dokter yang hanya bisa dibeli di apotek. Interaksi obat
yaitu indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit meningkat
bila diberikan bersama asam etakrinat. Pusing, lesu, kaku otot,
hipotensi, mual dan diare adalah efek samping dari penggunaan obat medis
jenis diuretik ini.4 Sedangkan dalam pengobatan tradisional, pengobatan
hipertensi dengan diuretik ini adalah dengan tanaman alang-alang.salah
satu fungsi tanaman alang-alang ini adalah mengobati gangguan saluran
kemih. Persea Americana M., Persea gratissima Gaertn (alpukat) yang daun
dan buahnya mengandung polifenol, quersetin, saponin alkaloida dan
flavonoid memiliki sifat peluruh kencing. Selain itu, alpukat juga
memiliki macam efek farmakologis lain selain antihipertensi seperti
antiradang dan analgesik.5 Penggunaan racikan obat herbal ini tidak
memiliki efek samping.
Kedua, selain obat diuretik ada jenis obat kimia lain yang digunakan
untuk pengobatan hipertensi. Antagonis reseptor-beta yang bekerja pada
reseptor beta jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah
jantung. Contohnya asebutol (beta bloker) mempunyai nama paten sacral,
corbutol, sectrazide. Biasanya disediakan dalam bentuk tablet atau
kapsul. Mekanisme kerjanya menghambat efek isoproterenol, menurunkan
aktivitas rennin, menurunkan outflow simpatetik perifer. Memiliki efek
samping mual, kaki dan tangan menjadi terasa dingin, insomnia, mimpi
buruk dan lesu. Biasanya dalam penggunaannya berdosis 2 x 200 mg/hr
(maksimal 800 mg/hr). Contoh lain dari antagonis reseptor beta adalah
atenolol, metoprolol, propranolol. Ada juga Antagonis Reseptor Alfa yang
menghambat reseptor alfa di otot polos vaskuler yang secara normal
berespon terhadap rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi. Kalsium
Antagonis menurunkan kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan
mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. ACE
inhibitor (penghambat enzim konversi angiotensin) berfungsi untuk
menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk
mengubah angostin I menjadi angiostin II. Hal ini menurunkan tekanan
darah secara langsung dan menurunkan resistensi perifer.. dan angiostin
II diperlukan untuk sintesis aldosteron maupun dengan meningkatkan
pengeluaran natrium melalui urin sehingga volume plasma dan curah
jantung menurun. Salah satu jenis obat ini adalah kaptropil, namun dalam
kaptropil ini mengandung efek samping terjadinya batuk, kulit menjadi
kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia, pandangan kabur dan
myalgia. Antihipertensi secara medis modern adalah vasodilator (misalnya
: hidralazin, minoksidil) menurunkan tekanan darah dengan cara
merelaksasi otot polos pembuluh darah.antihipertensi vasodilator
memiliki efek dapat menyebabkan retensi cairan. Pengobatan modern untuk
hipertensi ini memiliki banyak efek samping, akan tetapi dalam cara
kerjanya terlihat lebih efektif dan penggunaan dosisnya sudah ada
penyesuaian (aturan yang mengatur dosis minum).
Ketiga, obat tradisional untuk penyakit hipertensi ini juga banyak
dan sangat mudah untuk didapatkan karena bahan dasarnya ada di alam
sekitar kita. Dalam pengobatan menggunakan obat tradisional ini memang
lebih mudah didapat dan lebih terjangkau harganya akan tetapi, dosis
penggunaan obat ini tidak diketahui secara pasti. Beberapa contoh lain
dari tanaman obat yang digunakan sebagai obat hipertensi adalah buah
mengkudu yang penggunaannya diparut dan peras atau saring sehingga air
dan ampasnya terpisah. Kemudian air sarinya diminum. Bagi penderita
hipertensi yang disertai pembengkakan kaki, ada protein dalam air kemih
atau terdapat batu ginjal disarankan memakan daun semiran. Akan tetapi,
dalam penggunaanya harus diperhatikan, karena jika terlalu banyak atau
berlebihan memakan daun meniran dapat menyebabkan lemah syahwat atau
impotensi.6 Daun pegagan atau Centella asiatica yang menurut penelitian
ekstrak pegagan yang berupa infus aktif penurun tekanan darah anjing
teranestesi yaitu triterpen yang kemungkinan besar asiatikosida dan
polifenol, yang merupakan penyusun tannin. Kandungan ini dapat
memberikan kemungkinan sebagai kandungan aktif herba pegagan yang
berefek hipotensif. Selain itu ada belimbing, rimpang kunyit, asam
trangguli, seledri, serbuk biji mahoni, daun tempuyung, lobak, selada
air, mentimun, akar dan buah papaya, jagung muda dan rambut jagung, the
hijau, daun tapak dsb. pun adalah beberapa tanaman yang diketahui
memiliki pengaruh terhadap hipertensi.
Kedua pengobatan antihipertensi baik secara modern maupun
konvensional atau tradisional memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Pertama, obat modern lebih tepat penggunaan dosisnya,
sedangkan obat tradisional menggunakan perkiraan dalam penggunaannya.
Kedua, obat tradisional lebih mudah didapat dan harganya lebih
terjangkau, sedangkan obat modern saat ini harganya mahal dan sebagian
besar harus dengan resep obat untuk mendapatkannya. Ketiga, dalam hal
efek samping yang ditimbulkan oleh kedua pengobatan menggunakan obat
tradisional maupun modern, keduanya memiliki efek samping. Akan tetapi,
obat tradisional memiliki efek samping yang lebih ringan dan sedikit
dibandingkan obat modern. Namun, kedua pengobatan ini memiliki kesamaan
yaitu sama-sama untuk penyembuhan hipertensi.
Kesimpulannya, hipertensi adalah penyakit tekanan darah yang melebihi
batas normal yang mempunyai risiko untuk menderita penyakit komplikasi
seperti stroke dan diabetes. Penyakit darah tinggi atau hipertensi ini
sering dijumpai pada orang dewasa yang berumur melebihi 18 tahun. Namun
demikian, hipertensi memiliki pengobatan-pengobatan yang bertujuan untuk
menurunkan tekanan darah yaitu secara konvensional atau tradisional dn
secara modern atau medis. Dalam pengobatan hipertensi yang dilakukan
secara konvensional adalah pengobatan yang bahan dasar dan pembuatannya
dari alam. Pengobatan ini diambil dari obat atau ramuan yang bahannya
dalah tanaman-tanaman berkhasiat seperti daun pegagan, buah mengkudu,
daun seledri, mentimun, belimbing dan lain-lain. Diuretik (loop
diuretik, thiazid diuretik, diuretic hemat kalim dan antagonis
aldosteron), antagonis reseptor beta, antagonis reseptor alfa, ACE
inhibitor (penghambat enzim konversi angiotensin) dan vasodilator
termasuk jenis obat yang digunakan dalam pengobatan medis (modern).
Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menurunkan tekanan darah tanpa
menimbulkan komplikasi penyakit lain, menurunkan tingkat kematian akibat
hipertensi dan tanpa menimbulkan gangguan pada fungsi sistem tubuh
lain. Namun, semua pengobatan- pengobatan ini memiliki masing-masing
efek yang ditimbulkan akibat penggunaannya, secara tradisional dan
modern. Jadi, dalam memilih cara pengobatan hipertensi para penderita
harus teliti dan harus memahami benar apa kegunaan dan efek samping yang
ditimbulkan.
Lah tulisan di atas, diambil dari berbagai referensi buku dan tulisan
para ahlinya niiiih
DAFTAR PUSTAKA
1. Rusdi, Isnawati N. Awas. Anda Bisa Mati Cepat Akibat Hipertensi dan
Diabetes. Jogjakarta: Power Books (Inhidina); 2009.
2. Willey J et al. Terapi Hipertensi. Bandung: Qanita ;2010.
3. Williams B, Poulter NR, Brown MJ, Davis M, Mclnnes GT, Potter JF et
al. British Hypertension Society Guidelines for Hypertension management
2004 (BHS-IV): Summary. BMJ. 2004; 328: 634-40.
4. Theodorus. Penuntun Praktis Peresepan Obat. Jakarta: EGC; 1996.
5. Adi, P. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Jakarta: Penebar Swadaya;
2006.
6. Wijayakusuma H, Dalimartha S. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan
Darah Tinggi. Jakarta: Percetakan Swadaya; 1995.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar