Senin, 06 Oktober 2014

Pengobatan Konvensional untuk Hipertensi



 Melihat dari pengalaman dan perjalanan hidup selama ini, saya menemukan banyak sekali yah menderita darah tinggi atau hipertensi. Pada tulisan kali ini dibahas tentang informasi pengobatan hipertensi secara konvensional dan modern. silahkan disimak. . . . :)

Pengobatan Konvensional dan Modern untuk Hipertensi Kesejahteraan masyarakat Indonesia yang masih di bawah negara lain terutama dalam bidang pendidikan membuat sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki riwayat pendidikan rendah tidak selalu mengerti apa keuntungan atau kerugian dari hal yang mereka kerjakan atau mereka pikirkan, termasuk dalam bidang kesehatan. Pola pikir masyarakat Indonesia yang hanya mengikuti kaum mayoritas sebagai pedoman melakukan kegiatan sehari-hari sebenarnya tanpa mereka sadari telah merugikan mereka sendiri, misalnya dalam bidang kesehatan. Telah diketahui oleh masyarakat luas bahwa kesehatan masyarakat Indonesia sangatlah rendah, terutama dalam pengetahuan masyarakat Indonesia tentang semua yang menyangkut salah satu penyakit terbanyak yang diderita masyarakat di Indonesia yaitu hipertensi. Pemahaman masyarakat di Indonesia yang masih rendah tentang hipertensi ini membuat kebanyakan dari penderita tidak mengetahui perkembangan tentang penyakit hipertensi yang mereka derita baik dari perkembangan pengobatannya, perkembangan informasi tentang resikonya maupun semua yang menyangkut hipertensi. Kembali pada pola pikir masyarakat Indonesia yang selalu mengikuti kaum mayoritas ini menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia yang menderita hipertensi hanya mengetahui hipertensi sebatas penyakit tekanan darah tinggi, dan hanya dengan datang ke rumah sakit sebagai pasien yang mengeluhkan tentang penyakitnya kepada dokter kemudian dokter memberinya resep obat kimia (obat modern) yang harus pasien beli dan minum secara teratur. Kenyataannya ada alternatif lain dalam penyembuhan hipertensi yang tidak mereka ketahui yaitu pengobatan hipertensi secara konvensional atau secara tradisional yang menggunakan resep atau ramuan tradisional hasil olahan bahan alam yang ada di sekitar lingkungan masyarakat Indonesia, jalan lain selain menjadi pasien peminum obat kimia. Dalam tulisan ini akan membahas dan mengungkapkan tentang perbandingan antara pengobatan hipertensi secara konvensional atau tradisional dengan pengobatan secara modern atau kimia. Kelainan atau penyakit yang timbul akibat ketidaknormalan tekanan darah adalah hipertensi dan hipotensi. Hipotensi adalah tekanan darah rendah dimana tekanan darah berada di bawah batasan normal. Hipertensi adalah tekanan darah dimana tekanan darah tersebut tingginya melebihi batas normal. Hipertensi adalah penyakit kelainan jantung yang ditandai oleh meningkatnya tekanan darah dalam tubuh. Seseorang yang menderita penyakit ini biasanya berpotensi mengalami penyakit-penyakit lain seperti stroke, dan penyakit jantung.1 Klasifikasi hipertensi adalah tekanan darah untuk orang dewasa berumur 18 tahun atau lebih. Tekanan darah yang dimaksud adalah rata-rata dari dua atau lebih pengukuran dan dilakukan dua kali atau lebih pada waktu yang berbeda.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah salah satunya adalah curah jantung dimana curah jantung tersebut berbanding lurus dengan tekanan darah, tahanan perifer juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap aliran darah yang berbanding terbalik dengan tekanan darah. Selain itu, kandungan elektrolit dalam tubuh juga berpengaruh terhadap kenaikkan tekanan darah. Setiap kali jantung berdenyut atau otot berkontraksi elektrolit berperan di dalamya, karena tanpa elektrolit jantung akan berhenti dan otot kaku. Penelitian terhadap tikus yang peka terhadap natrium dan terhadap tikus yang resisten terhadap natrium yang keduanya diperlakukan sama yaitu diberi makanan bernatrium tinggi menunjukkan hasil bahwa tikus yang peka terhadap natrium ketika diberi makanan yang bernatrium tinggi mengalami kenaikkan tekanan darah dengan cepat, sedangkan tikus yang resisten terhadap natrium tidak memiliki pengaruh setelah pemberian makanan bernatrium tinggi tersebut. Respon berkebalikan ketika ginjal tikus resisten natrium dicangkokkan kepada tikus peka natrium dan ginjal tikus peka natrium dicangkokkan kepada tikus resisten natrium. Jadi, tikus yang mempunyai ginjal yang peka terhadap natrium tekanan darahnya akan naik cepat ketika memakan makanan yang berkadar natrium tinggi. Ini dikarenakan garam dan senyawa natrium berperan dalam inisiasi serangkaian senyawa angiotensin dalam menaikkan tekanan darah. Semakin peka seseorang terhadap natrium maka angiostin dalam ginjal juga lebih banyak. Semakin banyak natrium dalam tubuh maka semakin banyak air yang tertekan di dalam jaringan dalam tubuh yang semua kejadian ini akan mengakibatkan kenaikkan tekanan darah. Selain garam dan senyawa natrium, kalium juga memelihara fungsi normal otot, jantung dan sistem saraf. Kalium juga merupakan regulator utama tekanan darah. Tekanan darah akan naik jika kadar kalium dalam tubuh seseorang tersebut kurang atau rendah. Tekanan darah terutama tekanan diastolik juga akan naik dengan rendahnya kadar senyawa kalsium dan magnesium dalam tubuh.2 Secara singkatnya tubuh memiliki suatu sistem untuk mengatur tinggi tensinya yaitu sistem rennin angiotensin. Sel tertentu dari ginjal dapat memproduksi hormon renin yang dilepaskan apabila tekanan darah di glomerulus menurun. ini akan terjadi jika jumlah darah yang mengalir melalui ginjal berkurang. Di dalam darah, renin bergabung dengan suatu zat protein tertentu dengan menghasilkan argiotensin yang berguna untuk menaikkan tekanan darah seperti neurohormon noradrenalin (vasokontriksi) atau dengan jalan sekresi hormon aldosteron dengan retensi natrium dan naiknya volume darah. Jadi, para penderita hipertensi harus mampu mengotrol kandungan garam, mineral, kalium, kalsium dan magnesium pada makanan dan pada komposisi obat yang harus diminumnya. Perbandingan komposisi dan keuntungan kerugian obat yang diberikan dari pengobatan tradisional dan pengobatan modern (bahan kimia) pasti banyak pengaruhnya terhadap kondisi sang penderita hipertensi. Pengobatan hipertensi dilakukan untuk mencegah terjadinya kenaikkan tingkat kematian individu (morbiditas dan mortalitas akibat tekanan darah tinggi atau hipetensi. Maksudnya, tekanan darah harus diturunkan sampai mencapai tingkat batas normal yang tidak memiliki efek teganggunya fungsi atas ginjal, otak, jantung maupun kualitas hidup seseorang, dibarengi dengan dilakukan pengendalian beberapa faktor risiko kardiovaskuler lainnya. Pengobatan tradisional untuk penyakit hipertensi ini adalah pengobatan hipertensi yang obatnya diambil dari bahan alami berupa tumbuhan, bahan hewan atau campuran dari bahan tersebut,dapat dikatakan juga sebagai pengobatan yang dilakukan selain dengan jalan operasi atau dengan konsumsi obat kimiawi yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman, begitu pun sebaliknya untuk penobatan hipertensi dengan modern adalah dengan perkembangan teknologi dengan berbagai obat campuran bahan kimia. Kedua pengobatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan disetiap penggunaannya dalam kehidupan masyarakat. Pertama, pengobatan hipertensi ini adalah untuk menurunkan tekanan darah sampai batas normal, salah satunya dengan cara memperlancar air seni. Kelancaran pengeluaran air seni akan mempengaruhi tekanan darah. Tekanan darah tinggi bisa dipengaruhi atau diobati dengan peningkatan pengeluaran air seni pada darah atau urin yang sering disebut dengan diuretik. Karena salah satu cara menurunkan tekanan darah tinggi yaitu penurunan jumlah air yang ada dalam plasma darah atau peningkatan pengeluaran air seni, karena dengan berkurangnya air dalam plasma darah atau jaringan tubuh kita dapat menurunkan tekanan darah. British hypertension society (BHS) guideline memberikan arahan pilihan terapi hipertensi berdasarkan usia pasien (lebih atau kurang dari 55 tahun).3 Pilihan terapi untuk pasien usia tua adalah diuretic dan channel blockers (CCB). Mekanisme kerja obat diuretik ini adalah menurunkan tekanan darah dengan menghancurkan garam yang tersimpan di dalam tubuh. Pengaruhnya adalah pengurangan dari volume darah total dan curah jantung; yang menyebabkan meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer dan ketika jantung kembali ke tekanan normal, resistensi pembuluh darah perifer juga berkurang. Pengobatan hipertensi dengan obat diuretik secara modern yaitu dengan penggunaan obat diuretik yang macamnya diuretic thiazid meruapakan obat utama dalam terapi hipertensi yang memiliki efek hipokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia dll. Loop diuretic ini tidak menyebabkan hipokalsemia, hanya saja meningkatkan kandungan kadar kalsium. Diuretik hemat kalium dan antagonis aldosteron yang bekerja pada segmen yang berespon terhadap aldosteron dimana homeostasis kalium dikendalikan. Namun jenis ini dapat menyebabkan hiperkalemia berat. Salah satu contoh obat diuretik ini adalah furosemide (loop diuretic) yang bernama paten cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, lasix, salurix, uresix. Obat ini hanya dapat didapat atas dasar resep dokter yang hanya bisa dibeli di apotek. Interaksi obat yaitu indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit meningkat bila diberikan bersama asam etakrinat. Pusing, lesu, kaku otot, hipotensi, mual dan diare adalah efek samping dari penggunaan obat medis jenis diuretik ini.4 Sedangkan dalam pengobatan tradisional, pengobatan hipertensi dengan diuretik ini adalah dengan tanaman alang-alang.salah satu fungsi tanaman alang-alang ini adalah mengobati gangguan saluran kemih. Persea Americana M., Persea gratissima Gaertn (alpukat) yang daun dan buahnya mengandung polifenol, quersetin, saponin alkaloida dan flavonoid memiliki sifat peluruh kencing. Selain itu, alpukat juga memiliki macam efek farmakologis lain selain antihipertensi seperti antiradang dan analgesik.5 Penggunaan racikan obat herbal ini tidak memiliki efek samping. Kedua, selain obat diuretik ada jenis obat kimia lain yang digunakan untuk pengobatan hipertensi. Antagonis reseptor-beta yang bekerja pada reseptor beta jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah jantung. Contohnya asebutol (beta bloker) mempunyai nama paten sacral, corbutol, sectrazide. Biasanya disediakan dalam bentuk tablet atau kapsul. Mekanisme kerjanya menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas rennin, menurunkan outflow simpatetik perifer. Memiliki efek samping mual, kaki dan tangan menjadi terasa dingin, insomnia, mimpi buruk dan lesu. Biasanya dalam penggunaannya berdosis 2 x 200 mg/hr (maksimal 800 mg/hr). Contoh lain dari antagonis reseptor beta adalah atenolol, metoprolol, propranolol. Ada juga Antagonis Reseptor Alfa yang menghambat reseptor alfa di otot polos vaskuler yang secara normal berespon terhadap rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi. Kalsium Antagonis menurunkan kontraksi otot polos jantung dan atau arteri dengan mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. ACE inhibitor (penghambat enzim konversi angiotensin) berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angostin I menjadi angiostin II. Hal ini menurunkan tekanan darah secara langsung dan menurunkan resistensi perifer.. dan angiostin II diperlukan untuk sintesis aldosteron maupun dengan meningkatkan pengeluaran natrium melalui urin sehingga volume plasma dan curah jantung menurun. Salah satu jenis obat ini adalah kaptropil, namun dalam kaptropil ini mengandung efek samping terjadinya batuk, kulit menjadi kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia, pandangan kabur dan myalgia. Antihipertensi secara medis modern adalah vasodilator (misalnya : hidralazin, minoksidil) menurunkan tekanan darah dengan cara merelaksasi otot polos pembuluh darah.antihipertensi vasodilator memiliki efek dapat menyebabkan retensi cairan. Pengobatan modern untuk hipertensi ini memiliki banyak efek samping, akan tetapi dalam cara kerjanya terlihat lebih efektif dan penggunaan dosisnya sudah ada penyesuaian (aturan yang mengatur dosis minum). Ketiga, obat tradisional untuk penyakit hipertensi ini juga banyak dan sangat mudah untuk didapatkan karena bahan dasarnya ada di alam sekitar kita. Dalam pengobatan menggunakan obat tradisional ini memang lebih mudah didapat dan lebih terjangkau harganya akan tetapi, dosis penggunaan obat ini tidak diketahui secara pasti. Beberapa contoh lain dari tanaman obat yang digunakan sebagai obat hipertensi adalah buah mengkudu yang penggunaannya diparut dan peras atau saring sehingga air dan ampasnya terpisah. Kemudian air sarinya diminum. Bagi penderita hipertensi yang disertai pembengkakan kaki, ada protein dalam air kemih atau terdapat batu ginjal disarankan memakan daun semiran. Akan tetapi, dalam penggunaanya harus diperhatikan, karena jika terlalu banyak atau berlebihan memakan daun meniran dapat menyebabkan lemah syahwat atau impotensi.6 Daun pegagan atau Centella asiatica yang menurut penelitian ekstrak pegagan yang berupa infus aktif penurun tekanan darah anjing teranestesi yaitu triterpen yang kemungkinan besar asiatikosida dan polifenol, yang merupakan penyusun tannin. Kandungan ini dapat memberikan kemungkinan sebagai kandungan aktif herba pegagan yang berefek hipotensif. Selain itu ada belimbing, rimpang kunyit, asam trangguli, seledri, serbuk biji mahoni, daun tempuyung, lobak, selada air, mentimun, akar dan buah papaya, jagung muda dan rambut jagung, the hijau, daun tapak dsb. pun adalah beberapa tanaman yang diketahui memiliki pengaruh terhadap hipertensi. Kedua pengobatan antihipertensi baik secara modern maupun konvensional atau tradisional memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pertama, obat modern lebih tepat penggunaan dosisnya, sedangkan obat tradisional menggunakan perkiraan dalam penggunaannya. Kedua, obat tradisional lebih mudah didapat dan harganya lebih terjangkau, sedangkan obat modern saat ini harganya mahal dan sebagian besar harus dengan resep obat untuk mendapatkannya. Ketiga, dalam hal efek samping yang ditimbulkan oleh kedua pengobatan menggunakan obat tradisional maupun modern, keduanya memiliki efek samping. Akan tetapi, obat tradisional memiliki efek samping yang lebih ringan dan sedikit dibandingkan obat modern. Namun, kedua pengobatan ini memiliki kesamaan yaitu sama-sama untuk penyembuhan hipertensi. Kesimpulannya, hipertensi adalah penyakit tekanan darah yang melebihi batas normal yang mempunyai risiko untuk menderita penyakit komplikasi seperti stroke dan diabetes. Penyakit darah tinggi atau hipertensi ini sering dijumpai pada orang dewasa yang berumur melebihi 18 tahun. Namun demikian, hipertensi memiliki pengobatan-pengobatan yang bertujuan untuk menurunkan tekanan darah yaitu secara konvensional atau tradisional dn secara modern atau medis. Dalam pengobatan hipertensi yang dilakukan secara konvensional adalah pengobatan yang bahan dasar dan pembuatannya dari alam. Pengobatan ini diambil dari obat atau ramuan yang bahannya dalah tanaman-tanaman berkhasiat seperti daun pegagan, buah mengkudu, daun seledri, mentimun, belimbing dan lain-lain. Diuretik (loop diuretik, thiazid diuretik, diuretic hemat kalim dan antagonis aldosteron), antagonis reseptor beta, antagonis reseptor alfa, ACE inhibitor (penghambat enzim konversi angiotensin) dan vasodilator termasuk jenis obat yang digunakan dalam pengobatan medis (modern). Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menurunkan tekanan darah tanpa menimbulkan komplikasi penyakit lain, menurunkan tingkat kematian akibat hipertensi dan tanpa menimbulkan gangguan pada fungsi sistem tubuh lain. Namun, semua pengobatan- pengobatan ini memiliki masing-masing efek yang ditimbulkan akibat penggunaannya, secara tradisional dan modern. Jadi, dalam memilih cara pengobatan hipertensi para penderita harus teliti dan harus memahami benar apa kegunaan dan efek samping yang ditimbulkan. Lah tulisan di atas, diambil dari berbagai referensi buku dan tulisan para ahlinya niiiih DAFTAR PUSTAKA 1. Rusdi, Isnawati N. Awas. Anda Bisa Mati Cepat Akibat Hipertensi dan Diabetes. Jogjakarta: Power Books (Inhidina); 2009. 2. Willey J et al. Terapi Hipertensi. Bandung: Qanita ;2010. 3. Williams B, Poulter NR, Brown MJ, Davis M, Mclnnes GT, Potter JF et al. British Hypertension Society Guidelines for Hypertension management 2004 (BHS-IV): Summary. BMJ. 2004; 328: 634-40. 4. Theodorus. Penuntun Praktis Peresepan Obat. Jakarta: EGC; 1996. 5. Adi, P. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Jakarta: Penebar Swadaya; 2006. 6. Wijayakusuma H, Dalimartha S. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Darah Tinggi. Jakarta: Percetakan Swadaya; 1995.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar